Tampilkan postingan dengan label Model Pembelajaran Cooperative Learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Model Pembelajaran Cooperative Learning. Tampilkan semua postingan
Kamis, 08 September 2011
Model Pembelajaran NHT
1. Model Pembelajaran Kooperatif tipe NHT (Numbered Head Together)
Menurut Trianto (2007: 62) “Numbered Head Together (NHT) atau penomoran berpikir bersama adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif struktur kelas tradisional”. Suprijono (2009: 92) juga mengemukakan pendapatnya mengenai model Pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Together), yaitu
Pembelajaran dengan menggunakan metode Numbered Head Together diawali dengan numbering (penomoran). Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap kelompok. Selanjutnya siswa dapat saling berdiskusi. Langkah terakhir yaitu guru memanggil peserta didik yang memiliki nomor yang sama dari tiap kelompok.
Anita Lie (2010: 59) berpendapat, bahwa NHT (Numbered Head Together) dikembangkan oleh Spencer Kagan. NHT memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan yaitu model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan model pembelajaran yang dilaksanakan dengan pemberian nomor pada tiap siswa dalam suatu kelompok. Pembelajaran tersebut bertujuan mengaktifkan siswa serta membantu siswa untuk dapat berinteraksi dengan teman-temannya. Selain itu, siswa juga terdorong untuk berani mengemukakan pendapatnya kepada orang lain.
Karakteristik NHT adalah guru menunjuk seorang siswa yang akan mewakili kelompoknya. Siswa dipanggil berdasarkan nomor yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam menunjuk siswa tersebut, guru tidak memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok tersebut. Hal itu dimaksudkan agar semua siswa selalu siap dengan jawabannya dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok.
Menurut Trianto (2007: 62-63) Fase dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT ada empat, yaitu:
Fase 1: Penomoran
Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggotakan 3-5 orang dan setiap anggota kelompok diberi nomor 1-5.
Fase 2: Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya atau bentuk arahan.
Fase 3: Berpikir bersama,
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.
Fase 4: Menjawab
Guru memanggil siswa dengan nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Setelah semua siswa sudah mendapat kesempatan untuk menjawab, guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Guru juga dapat memberi penghargaan bagi kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi. Selain itu, guru harus memberikan motivasi bagi kelompok kalah.
Kelebihan NHT antara lain untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, memperdalam pamahaman siswa terhadap materi, menyenangkan, mengembangkan sikap positif, mengembangkan sikap kepemimpinan, mengembangkan rasa ingin tahu, meningkatkan rasa percaya diri, mengembangkan rasa saling memiliki, menghargai pendapat orang lain, serta mengembangkan keterampilan sosial siswa. Sedangkan, Kelemahannya terdapat pada pelaksanaan yang membutuhkan banyak waktu. Selain itu, dalam persiapan juga harus diperlukan perencanaan yang matang.
Model Pembelajaran Jigsaw
- Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya (Kunandar 2009: 364). Metode Jigsaw dari Aronson merupakan metode Jigsaw orisinal. Slavin (2010: 245) mengemukakan bahwa “dalam Jigsaw orisinal, para siswa membaca bagian-bagian yang berbeda dengan yang dibaca oleh teman satu timnya”. Misalnya tentang Indonesia, satu siswa mungkin saja memiliki informasi tentang ekonomi Indonesia, yang lainnya tentang geografinya, tentang sejarahnya, dan seterusnya. Untuk mengetahui segala sesuatu tentang Indonesia, siswa harus bergantung pada teman satu timnya. Dalam Jigsaw orisinal, siswa hanya membaca satu bagian dari seluruh unit yang harus dipelajari. Slavin (2010: 237) mengemukakan bahwa “bentuk adaptasi Jigsaw yang lebih praktis dan mudah, yaitu Jigsaw II”. Dalam penelitian, penulis menggunakan model pembelajaran koopreatif tipe Jigsaw II, yang merupakan bentuk adaptasi oleh Slavin. “Kelebihan dari Jigsaw II yaitu semua siswa membaca semua materi, yang akan membuat konsep-konsep yang telah disatukan menjadi lebih mudah untuk dipahami” (Slavin 2010: 245).
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Menurut Subroto (http://tjiptosubroto.wordpress. com/2011/04/17) “tipe Jigsaw diterapkan dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok yang teridiri dari 5 atau 6 siswa. Materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks, di mana setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian-bagian tertentu dari pokok-pokok materi”.
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi kepada anggota kelompok yang lain. Lie dalam Nurman (http://nurmanspd. wordpress.com/2009/09/06) menegaskan bahwa “siswa saling tergantung satu sama lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan”. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Nurman dalam latar belakang masalah, bahwa karakteristik khusus Jigsaw yaitu adanya kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang heterogen, kelompok asal merupakan gabungan dari kelompok ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda dan ditugaskan untuk mempelajari dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topik kemudian menjelaskan hasilnya kepada anggota kelompok asal.
Slavin (2010: 237) mengemukakan bahwa:
Dalam Jigsaw II para siswa bekerja dalam tim yang heterogen. Para siswa tersebut diberikan tugas untuk membaca beberapa bab atau unit, dan diberikan “lembar ahli” yang terdiri atas topik-topik yang berbeda yang harus menjadi fokus perhatian masing-masing tim saat mereka membaca. Setelah semua anak selesai membaca, siswa-siswa dari tim berbeda yang mempunyai fokus topik yang sama bertemu dalam “kelompok ahli” untuk mendiskusikan topik mereka sekitar tiga puluh menit. Para ahli tersebut kemudian kembali pada tim mereka dan secara bergantian mengajari teman satu timnya mengenai topik mereka. Yang terakhir, para siswa menerima penilaian mencakup seluruh topik, dan skor kuis akan menjadi skor tim.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota antara dengan siswa yang heterogen dan bertanggung jawab pada penugasan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota kelompok lain. Pemilihan jumlah anggota dalam kelompok asal disesuaikan dengan jumlah sub bab yang akan dipelajari. Dalam teknik ini, siswa bekerja sama dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengelola informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Pembelajaran teknik Jigsaw ini memberikan kebebasan bagi siswa untuk aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui kerja sama dan saling ketergantungan satu sama lain. Dengan demikian, karakteristik Jigsaw di antaranya adalah pembelajaran yang berpusat pada anak, menekankan pada pembentukan kerjasama, dan adanya tim ahli dan tim asal.
b. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw
Slavin (2010: 241) menjelaskan Jigsaw II terdiri atas siklus regular dari kegiatan-kegiatan pengajaran:
Membaca. Para siswa menerima topik ahli dan membaca materi yang diminta untuk menemukan informasi.
Diskusi kelompok ahli. Para siswa dengan keahlian yang sama, bertemu untuk mendiskusikannya dalam kelompok-kelompok ahli.
Laporan tim. Para ahli kembali ke dalam kelompok mereka masing-masing untuk mengajari topik-topik mereka kepada teman satu timnya.
Tes. Para siswa mengerjakan kuis-kuis individual yang mencakup semua topik.
Rekognisi tim. Skor tim dihitung berdasarkan skor perkembangan individual.
Kunandar (2009: 365) menjelaskan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebagai berikut:
1) Kelompok Cooperative (awal)
a) Siswa dibagi ke dalam kelompok kecil 3-6 siswa.
b) Bagikan wacana atau tugas akademik yang sesuai dengan materi yang diajarkan.
c) Masing-masing siswa dalam kelompok mendapatkan wacana atau tugas yang berbeda-beda dan memahami informasi yang ada di dalamnya.
d) Masing-masing siswa dalam kelompok mendapatkan wacana atau tugas yang berbeda-beda dan memahami informasi yang ada di dalamnya.
2) Kelompok Ahli
a) Kumpulkan masing-masing siswa yang memiliki wacana atau tugas yang sama dalam satu kelompok, sehingga jumlah kelompok ahli sesuai dengan wacana atau tugas yang telah dipersiapkan oleh guru.
b) Dalam kelompok ahli ini, tugaskan siswa agar belajar bersama untuk menjadi ahli sesuai dengan wacana atau tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
c) Tugaskan semua anggota kelompok ahli untuk memahami dan dapat menyampaikan informasi tentang hasil wacana atau tugas yang telah dipahami kepada kelompok cooperative (kelompok awal).
d) Apabila tugas sudah selesai dikerjakan dalam kelompok ahli, masing-masing siswa kembali ke kelompok cooperative (kelompok awal).
e) Beri kesempatan secara bergiliran masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok ahli.
f) Apabila kelompok sudah menyelesaikan tugasnya secara keseluruhan, masing-masing kelompok melaporkan hasilnya dan guru memberi klarifikasi.
c. Penilaian Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Penilaian model pembelajaran koopertif tipe Jigsaw sama dengan penilaian model pembelajaran kooperatif tipe STAD, seperti yang dikemukakan oleh Slavin (2010: 244) bahwa “Perhitungan skor untuk Jigsaw sama dengan perhitungan STAD, termasuk untuk skor awalnya, poin-poin kemajuan, dan prosedur pengitungan skor”. Uraian penghitungan skor dijelaskan sebagai berikut:
1) Menentukan Skor Awal
Menurut Slavin (2010: 151) “skor awal mewakili skor rata-rata siswa pada kuis-kuis sebelumnya. Apabila guru memulai Jigsaw setelah guru memberikan tiga kali atau lebih kuis, gunakan rata-rata skor kuis siswa sebagai skor awal atau jika tidak, gunakan hasil nilai terakhir siswa dari tahun lalu”.
2) Menghitung Skor Individual dan Tim
Menghitung skor individual dengan cara menghitung poin kemajuan. Para siswa mengumpulkan poin kemajuan untuk tim mereka berdasarkan tingkat di mana skor kuis mereka melampaui skor awal mereka. Menurut Slavin (2010: 159) “untuk mengetahui skor perkembangan individu dihitung poin perkembangan dengan pedoman sebagai berikut”:
Skor Kuis Poin Kemajuan
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5
10-1 poin di bawah skor awal 10
Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20
Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30
Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 30
“Untuk menghitung skor tim, catatlah tiap poin kemajuan semua anggota tim pada lembar rangkuman im dan bagilah jumlah total poin kemajuan seluruh anggota tim dengan jumlah anggota tim yang hadir, bulatkan semua pecahan” (Slavin, 2010: 160).
3) Merekognisi prestasi Tim
Berdasarkan skor perkembangan yang diperoleh, Asma (2006: 91) mengemukakan “terdapat 3 tingkatan penghargaan yang diberikan, yaitu: 1) Kelompok yang memperoleh poin rata-rata 15, kriteria kelompok baik, 2) Kelompok yang memperoleh poin rata-rata 20, kriteria hebat, dan 3) Kelompok yang memperoleh poin rata-rata 25, kriteria kelompok super”.
Model Pembelajaran Make a Match
1. Teknik Make A Match
Teknik belajar make a match atau mencari pasangan menjadi salah satu teknik dalam pembelajaran kooperatif yang dapat mengembangkan kemampuan siswa. Teknik belajar make a match ini pertama kali dikembangkan oleh Lorna Curran pada tahun 1994 (Lie 2010: 55). Salah satu unggulannya yaitu siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia siswa. Guru dapat merancang teknik belajar make a match dalam suasana bermain sambil siswa belajar sesuatu.
Teknik make a match membawa beberapa manfaat bagi siswa, yaitu: (1) teknik pembelajaran make a match mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan, (2) materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa, dan (3) mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pada penerapan teknik make a match diperoleh beberapa temuan bahwa teknik make a match dapat memupuk kerja sama dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokan kartu yang ada di tangan mereka, proses belajar lebih menarik dan nampak sebagian besar siswa lebih antusias dalam proses pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya masing-masing (Tarmizi 2008).
Teknik make a match memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan teknik make a match yaitu: (1) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik; (2) karena ada unsur permainan, model ini menyenangkan; (3) meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari; (4) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa; (5) efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi; dan (6) efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar. Sedangkan kelemahan make a match yaitu: (1) jika guru tidak merancangnya dengan baik, maka akan banyak waktu yang terbuang; (2) pada awal penerapan teknik ini, banyak siswa bisa yang malu berpasangan dengan lawan jenisnya; (3) jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baik, saat presentasi banyak siswa yang kurang memperhatikan; (4) guru harus hati-hati dan bijaksana saat memberi hukuman pada siswa yang tidak mendapat pasangan karena mereka bisa malu; dan (5) menggunakan teknik ini secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan (Amin 2011).
2. Langkah-langkah Make A Match
Langkah-langkah dalam menerapkan pembelajaran kooperatif teknik make a match adalah sebagai berikut:
a. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian yang lain kartu jawaban.
b. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu.
c. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya, pemegang kartu PENGERTIAN GLOBALISASI akan berpasangan dengan PROSES MASUKNYA SESUATU KE RUANG LINGKUP DUNIA.
d. Siswa juga dapat bergabung dengan dua atau tiga siswa lain yang memegang kartu yang cocok. Misalnya, pemegang kartu HAMBURGER akan membentuk kelompok dengan pemegang kartu PIZZA HUT (Lie 2010: 55).
Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Model pembelajaran Two Stay Two Stray atau model dua tinggal dua tamu adalah salah satu metode cooperative learning yang dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992 (widodo : 2009). Dalam model TSTS siswa dibagi menjadi kelompok kecil dan diberi permasalahan/materi yang harus mereka diskusikan. Pembagian tugas dalam kelompok sangat jelas, dimana dua orang bertugas untuk bertamu ke kelompok lain untuk mencari informasi dari kelompok tersebut, dan sisanya bertugas sebagai tuan rumah untuk menjelaskan tentang materi/permasalahan kepada kelompok lain yang bertamu ke kelompok mereka (Lie 2004: 61).
Langkah-langkah Model Pembelajaran TSTS
Langkah-langkah dalam pelaksanaan model pembelajaran Two Stay Two Stray adalah :
1. Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (susunan ideal 3-4 siswa).
2. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk berdiskusi tentang suatu materi tertentu, guru membantu menjelaskan pada masing-masing kelompok jika ada yang kurang dimengerti.
3. Setelah dirasa cukup, masing-masing kelompok disuruh menunjuk beberapa anggotanya untuk diam ditempatnya (bertugas sebagai tuan rumah), sedangkan sisanya bertugas untuk menjadi tamu dikelompok lain.
4. Tugas tuan rumah adalah menjelaskan hasil diskusinya pada setiap tamu yang datang, sedangkan tugas anggota kelompok yang bertamu ke “rumah” kelompok lain adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang materi yang didiskusikan oleh kelompok tersebut.
5. Setelah dirasa cukup mendapatkan informasi, anggota kelompok yang bertugas sebagai tamu menjelaskan/menyebarkan informasi yang mereka dapatkan dari kelompok lain pada anggota kelompoknya sendiri.
6. Kesimpulan
Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran TSTS
Kelebihan :
a. Terdapat pembagian kerja kelompok yang jelas
b. Siswa dapat bekerjasama dengan temannya
c. Dapat mengatasi kondisi siswa yang ramai dan susah diatur saat proses belajar mengajar
Kekurangan :
a. Memerlukan waktu yang lama
b. Guru tidak dapat mengetahui kemampuan siswa masing-masing dalam proses memberi dan mencari informasi materi (sebelum posttest)
Langganan:
Postingan (Atom)